Cerita Pendek Inspiratif - Budaya Makan Tiongkok (Budaya Menyisakan Makanan )

 

 Kesadaran Diri

Fauvism Painting

        Pada suatu hari, Susan dan Abdul menghabiskan liburan semester mereka untuk pergi ke Tiongkok. Hati mereka dihiasi kembang api karena ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka untuk berkunjung ke luar negeri. Susan dan Abdul hendak bertemu dengan teman mereka bernama Chris untuk menjadi pemandu selagi mereka berkunjung disana. Tak heran Chris menjadi pemandu bagi mereka, ia sudah lama tinggal di Tiongkok sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Setelah beberapa langkah kaki, mereka bertiga akhirnya bertemu di depan sebuah taman dekat rumah Chris.

        “Halo Chris! Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” tanya Susan yang diawali dengan lambaian.

“Wahh aku baik-baik saja disini. Dari raut wajah kalian, kalian tampak sangat bersemangat. Pasti kalian tidak sabar untuk mengelilingi kota ini bukan?” ujar Chris dengan lancar.

“Tentu saja! Aku sudah menunggu selama bertahun-tahun untuk berkunjung ke tempat ini. Ditambah lagi, aku belum pernah berkunjung ke luar negeri sebelumnya. Jadi, tidak heran kalau aku bertingkah seperti cacing kepanasan.” sahut Susan.

“Begitu juga dengan aku. Aku sangat ingin mencicipi semua makanan khas Tiongkok. Sebelum kesini, aku sudah mencari tahu berbagai macam makanan-makanan lezat di internet. Dari penampilannya, makanan-makanan itu sungguh mengugah seleraku. Sampai-sampai, aku harus menghabiskan banyak tisu untuk mengusap air liurku yang selalu jatuh. Tapi, rasa penasaranku akhirnya akan lenyap sampai aku mencicipi semuanya itu.” kata Abdul.

“Memang makanan selalu nomor satu untukmu, Abdul.” sambung Susan.

“Kalau begitu tenang saja, aku mengetahui banyak sekali rumah makan yang menyediakan makanan-makanan lezat.” kata Chris penuh semangat.

“Wah, aku semakin tidak sabar untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Aku akan memakan bebek peking, dimsum, la mian, ma…” kalimat Abdul dipotong oleh Susan.

“Sudah cukup, Abdul. Mau berapa ratus makanan yang akan kamu sebutkan. Lebih baik, sekarang kita lanjutkan perjalanan kita saja.” kata Susan.

Susan dan Chris langsung melangkah maju kedepan dan melanjutkan perjalanan mereka. Tiba-tiba, langkah kaki mereka dihentikan oleh Abdul.

“Eh, eh, eh, kalian mau kemana? Kita makan saja dulu! Perutku sudah berteriak sejak dari pesawat tadi. Ditambah lagi, kita sudah berjalan kaki cukup jauh.” gerutu Abdul sambil memegang perutnya.

“Ya sudah, kita makan saja di rumahku. Ibuku sudah mempersiapkan begitu banyak makanan juga.” jawab Chris.

        Setelah melewati sedikit perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan rumah bertingkat tiga yang berkesan sangat mewah. Tanpa menunggu lama, Susan dan Abdul langsung memasuki rumah Chris dengan penuh semangat. Sesampainya di dalam, mereka segera mempersiapkan diri mereka untuk makan bersama keluarga Chris. Langkah kaki mereka menuju ke meja makan, dimana sudah tersedia begitu banyak makanan yang sangat menggugah selera. Selagi menunggu orang tua Chris yang sedang memasak, mereka mengadakan perbincangan dan saling berbagi informasi.

“Oh iya, sekedar untuk berbagi informasi, budaya makan di Tiongkok mungkin agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini, kami tidak boleh menyantap habis makanan yang telah disajikan.” jelas Chris.

“Haduh, memangnya kenapa? Lagian kan kita tidak boleh membuang makanan begitu saja.” bantah Abdul.

   “Kan setiap budaya berbeda-beda, Dul. Kita juga harus menghormati budaya yang ada disini sebagai warga Indonesia yang baik.” sahut Susan.

        “Iya, orang disini menganggap jika makanan habis disantap, itu berarti makanan yang disajikan tidak cukup. Semoga saja kalian mengerti ya.” sambung Chris dengan senyuman.

        Susan dan Abdul membalas pernyataan itu dengan anggukan. Walau sebenarnya Abdul tidak begitu setuju karena dia sedang sangat lapar. Ya, begitulah Abdul, ia sungguh keras kepala dan egois. Mereka berbincang-bincang hingga tidak menyadari lima belas menit telah berlalu dengan cepat. Keluarga Chris sudah berkumpul untuk makan bersama dan menyambut para tamu untuk makan. Tanpa menunggu lama, mereka langsung menyantap hidangan masing-masing. Tiga menit sudah terlewati, namun mereka belum kunjung menyelesaikan makanan mereka.

Aduh, makananku sudah hampir habis, namun aku masih lapar. Perutku seperti singa yang mengaung keras. Sejujurnya seluruh hidangan ini cukup untuk mengenyangkanku. Kenapa budaya disini aneh sekali ya? Atau, langsung kuhabiskan saja deh, aku tidak peduli dengan orang-orang disini.” kata Abdul dalam hatinya.

Tanpa berpikir panjang, Abdul segera menghabiskan makanannya dalam waktu sekejap. Abdul mengangkat piringnya dan mendekatkan piring itu pada mulutnya untuk mengahabiskan seluruh makanan yang tersisa. Gerakan sendok yang mengenai piring Abdul berbunyi dengan cukup keras. Perbuatan yang tidak menghormati ini mencuri pandangan seluruh orang di meja makan. Mengapa tidak, ini merupakan hal yang tidak biasa bagi penduduk Tiongkok. Susan langsung memegang tangan Abdul dan membawanya ke ruang tamu yang tak jauh dari meja makan.

“Abdul, kenapa kamu bertingkah seperti ini? Aku sudah memperingatimu tadi, agar kamu harus menyisahkan makananmu. Kita harus menghormati orang disekeliling kita juga.” ujar Susan dengan intonasi tinggi.

“Aduh, perut aku seperti singa yang belum diberi makan berhari-hari! Memangnya kenapa? Aku ini orang Indonesia, bukan orang Tiongkok, jadi untuk apa aku mengikuti budaya aneh mereka!?” bantah Abdul dengan malas.

“Iya, tapi ini negeri orang lain, kita harus menghormati mereka juga. Coba kamu bayangkan sejenak, kalau misalnya ada orang yang ke Indonesia lalu mereka bersikap tidak sopan kepada kita. Kamu pasti akan menilai dan berpendapat jelek terhadap mereka. Begitu juga dengan sikap yang baru kamu tunjukkan. Kalau mereka bisa menghormati kita, kita sepatutnya harus saling menghormati juga.” Susan memperjelas.

Abdul membisu seribu kata dan terdiam layaknya patung.

Chris sangat prihatin dengan kelakuan Abdul tadi. Namun, ia mencoba untuk menyemangati Abdul dan ingin membantu Abdul untuk bersikap lebih baik lagi. Lantas, Chris segera menghampiri Susan dan Abdul ke ruang tamu.

“Sudah tidak apa-apa. Nanti lain kali kamu harus belajar untuk menghormati budaya orang lain ya. Kita memang berbeda, tapi salinglah menghormati dan memerdulikan sesama. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi lagi ya Abdul.” ujar Chris dengan penuh kesabaran.

“Aku sungguh menyesal. Aku minta maaf karena tidak berpikir jauh sebelumnya. Tindakan ini sangat memalukan sebagai seorang warga Indonesia. Sekali lagi aku menyesal dan ingin meminta maaf.” kata Abdul dengan sepenuh hatinya.

“Tentu saja, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf. Pastikan apa yang kamu pelajari hari ini, akan kamu ingat dan terapkan kemana pun kamu pergi ya. Tenang saja, keluargaku pasti turut memahaminya.” jelas Chris.

“Aku akan mencoba untuk tidak bersikap egois dan saling menghormati satu sama lain, walaupun kita memiliki perbedaan. Terima kasih ya Chris.” Abdul terseyum lebar.

“Iya, sama-sama!” balas Chris.

“Wah aku sangat senang sekarang! Hari ini, kita dapat pengalaman dan pelajaran yang baru!” kata Abdul bersemangat.

“Belajarlah dari pengalamanmu, maka kamu dapat memperkaya pengetahuanmu!” ujar Susan dengan ramah.

Setelah masalah ini teratasi, mereka akhirnya kembali ke meja makan. Tanpa menunggu lama, Abdul langsung menyampaikan permintaan maafnya pada keluarga Chris. Keluarganya pun turut memberikan pengertian kepada Abdul dan memahaminya. Kesalapahaman ini telah diatasi dengan permohonan maaf karena timbulnya kesadaran diri. Abdul kemudian berubah dari orang yang egois dan keras kepala menjadi orang yang penuh rasa hormat. Akhirnya, mereka dapat menjalani liburan yang sangat menyenangkan di Tiongkok.


Struktur Cerita Pendek Inspiratif

1. Orientasi – Paragraf 1 (pengenalan para tokoh dan pembukaan cerita)

2. Komplikasi – Paragraf 2 – Paragraf 3 (Pengantaran pada komplikasi dimana Chris menjelaskan                                                    budaya mereka namun Abdul sendiri keras kepala dan tidak mau mendengarkan.)

3. Evaluasi – Paragraf 4 (Susan dan Abdul menasihati dan menjelaskan mengenai konflik tersebut)

4. Resolusi – Paragraf 5 (Abdul menyesal akan perbuatannya dan meminta maaf)

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

Komentar